Diambil dari Makalah Pendamping Seminar Nasional UNY Oleh Bp. Wagiran
<p>
Research dan fakta aktual di lapangan menunjukkan bahwa soft skills
memiliki peran penting dalam menentukan kesuksesan seseorang dalam bekerja.
Hard skills merupakan persyaratan minimal bagi seseorang untuk memasuki
bidang pekerjaan tertentu, sedangkan soft skills akan menentukan
pengembangan diri dalam pekerjaan. Oleh karenanya menjadi tantangan dunia
pendidikan termasuk SMK untuk mengintegrasikan kedua macam komponen
tersebut secara terpadu dan tidak berat sebelah agar mampu menyiapkan SDM
utuh yang memiliki kemampuan bekerja dan berkembang di masa depan. Paling
tidak terdapat tiga aspek mendasar dalam mengintegrasikan soft skills dalam
proses pendidikan/pembelajaran termasuk di SMK yaitu : (a) integrasi soft skills
dalam pengembangan kurikulum, (b) integrasi soft skills dalam proses
pembelajaran, dan (c) integrasi soft skillsls dalam iklim dan budaya sekolah.
Melalui ketiga aspek tersebut diiharapkan SMK mampu menghasilkan lulusan
paripurna yang memiliki kemampuan utuh berupa hard skills yang terintegrasi
dengan soft skills yang diperlukan dalam kehidupannya.
Kata kunci: hard skills, soft skills, SMK
“Hard skills will get an applicant an interview, but soft skills will get that person a
job” (Ian Morrison, http://www.medhunters.com/articles/softSkills.html)
Pendahuluan
Memasuki abad 21, banyak paradigma baru bermunculan dan memerlukan
pertimbangan serta perhatian yang seksama. Lingkungan bisnis global akan menjadi
semakin kompleks, dinamis, dan bermunculan berbagai konflik kepentingan. Hard
skills seperti pemahaman tentang bidang pekerjaan fungsional atau area tertentu , tidak
lagi mencukupi bagi seorang dalam meraih kesuksesan di dunia kerja. Saat ini
diperlukan seseorang yang dididik secara liberal, memiliki pemikiran yang terintegrasi,
komunikator yang handal, cerdas emosional, mampu bekerja dalam tim dan beretika,
yang semuanya itu bersifat soft skills. Pendidikan tradisional yang menekankan bahwa
dalam bekerja, seseorang harus memiliki pengetahuan yang tinggi tentang bidang pekerjaannya, sekarang tidak lagi mencukupi. Kenyataannya masih sangat sedikit
pandangan bahwa seorang pekerja harus memiliki soft skills.
Pembicaraan tentang soft skills tidak dapat dilepaskan dari pengertian
kompetensi. Kompetensi dapat diartikan sebagai motif, sikap, keterampilan,
pengetahuan, perilaku atau karakteristik pribadi lain yang penting untuk melaksanakan
pekerjaan atau yang membedakan antara kinerja rata-rata dengan kinerja superior.
Spencer and Spencer (Idawati, 2004) mengemukakan kompetensi khususnya
kompetensi kerja terdiri dari 5 komponen. Komponen tersebut adalah: (1) Knowledge,
yaitu ilmu yang dimiliki individu dalam bidang pekerjaan atau area tertentu, (2) Skill,
yaitu kemampuan untuk unjuk kerja fisik atau mental, (3) Self Concept, yaitu sikap
individu, nilai-nilai yang dianut serta citra diri, (4) Traits yaitu karakteristik fisik dan
respon yang konsisten atas situasi atau informasi tertentu, dan (5) Motives yaitu
pemikiran atau niat dasar yang konstan yang mendorong individu untuk bertindak atau
berperilaku tertentu
Skill dan knowledge sering disebut hard skills, sedangkan self concept, traits dan
motives disebut soft skills. Dalam menghadapi era global dengan akselerasi yang cepat
maka diperlukan tenaga kerja yang tidak hanya mempunyai kemampuan bekerja dalam
bidangnya (hard skills) namun juga sangat penting untuk menguasai kemampuan
menghadapi perubahan serta memanfaatkan perubahan itu sendiri (soft skills). Oleh
karena itu menjadi tantangan pendidikan untuk mengintegrasikan kedua macam
komponen kompetensi tersebut secara terpadu dan tidak berat sebelah agar mampu
menyiapkan SDM utuh yang memiliki kemampuan bekerja dan berkembang di masa
depan.
Tulisan ini dilatarbelakangi oleh kajian yang penulis lakukan tentang urgensi
aspek-aspek kompetensi lulusan SMK yang dibutuhkan di dunia industri. Hasil kajian
menunjukkan bahwa aspek-aspek kompetensi yang dirasa penting oleh industri adalah:
kejujuran, etos kerja, tanggungjawab, disiplin, menerapkan prinsip-prinsip keselamatan
dan kesehatan kerja, inisiatif dan kreatifitas. Jelas bahwa dilihat dari sisi kompetensi
maupun skill yang dibutuhkan, soft skills memiliki peran kunci dalam menentukan
kualifikasi yang dibutuhkan industri.
Temuan ini selaras dengan kajian yang dilakukan Muchlas Samani (2007) yang
menemukan urutan kompetensi utama yang dibutuhkan industri yang meliputi: Jujur,Disiplin, Tanggungjawab, Kerjasama, Memecahkan masalah, dan penguasaan bidang
kerja. Selaras dengan hal tersebut, penelitian terbaru yang dilakukan Andreas (2007,
dalam Muclas Samani, 2007) menunjukkan bahawa kompetensi utama yang
diharapkan industri meliputi urutan: Jujur, Disiplin, Komunikasi, Kerjasama, dan
Penguasaan Bidang Studi.
Berbagai penelitian lain makin menguatkan pentingnya soft skills dalam
menentukan keberhasilan seseorang, termasuk dalam hal ini lulusan SMK. Penelitianpenelitian
tersebut sebagaimana dikutip Heri Kuswara (www.frieyadie.com.htm) antara
lain:
1. Harvard University mengungkapkan bahwa kesuksesan karir seseorang 80%
ditentukan oleh soft skillsnya sementara hanya sekitar 20% saja ditentukan oleh
hard skills.
2. Pada Buku Lesson from The Top karya Neff dan Citrin (1999). Sepuluh kiat sukses
50 orang tersukses di Amerika, delapan kriteria memuat Soft skills sementara hanya
dua kriteria saja yang Hard skills.
3. Survei dari National Association of College and Employee (NACE), USA (2002),
kepada 457 pemimpin di Amerika, tentang 20 kualitas penting orang sukses,
hasilnya berturut-turut adalah Soft skills dan hanya dua yang Hard skills.
4. Dan Pink dalam bukunya “A Whole New Mind” menyatakan bahwa “soft skills have
become the source of economic survival”
5. Psikolog David Mc Clelland berpendapat ”Faktor terkuat yang berkontribusi
terhadap kesuksesan para eksekutif adalah seluruhnya faktor soft skills, satusatunya
hard skills yang masuk dalam daftarnya yaitu kemampuan berpikir analitis.
6. Rinella Putri (Vibiznews – Human Resources) menyatakan bahwa: ”Komunikasi
dan interpersonal skill merupakan syarat terpenting untuk sukses di profesi
manapun.
Akumulasi dari berbagai penelitian di atas, menuntut dunia pendidikan termasuk
SMK untuk mempersiapkan lulusannya yang bukan hanya siap pakai di dunia
kerja/dunia usaha namun pula siap untuk meraih kesuksesan karir di dunia manapun
(kerja/usaha). Terlebih lagi di kalangan praktisi SDM, pendekatan hard skills sudah
mulai ditinggalkan. Menjadi tidak bermakna jika hard skills-nya bagus, tetapi soft
skills-nya buruk. Hal ini bisa dilihat pada iklan-iklan lowongan kerja berbagaiperusahaan yang juga mensyaratkan kemampuan soft skills, seperti team work,
kemampuan komunikasi, dan interpersonal relationship dalam seleksi penerimaan
karyawannya. Saat penerimaan karyawan, perusahaan cenderung memilih calon yang
memiliki kepribadian lebih baik meskipun hard skills-nya lebih rendah. Alasannya
sederhana : memberikan pelatihan keterampilan jauh lebih mudah daripada
pembentukan karakter. Bahkan kemudian muncul tren dalam strategi penerimaan
karyawan yaitu untuk menghasilkan Right People – Right Job – Right Performance
praktisi SDM senantiasa melakukan screening recruitment dengan prinsip ”Recruit for
Attitude, Train for Skill“.
Kalangan industri dan bisnis telah melakukan beberapa kajian untuk
mendefinisikan, menentukan faktor-faktor yang menentukan keberhasilan seseorang
dalam pekerjaan. Tahun 1990 The Secretary of Labor membentuk suatu komisi untuk
melakukan penelitian tentang kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan oleh tenaga
kerja muda untuk memasuki dunia kerja. Hasil penelitian tersebut tertuang dalam
SCANS (Secretary’s Commission on Achieving Necessary Skills). Studi ini
menemukan bahwa: “more than half of the nation’s young people were leaving school
without the knowledge needed to find and hold a job”. Sedikit dari mereka yang
memiliki kemampuan dasar seperti memberikan alasan ketika sakit.
Studi yang dilakukan Corinne Mason, Deadtrick Newson dan Edward R. Del
Gaizo, terhadap pendapat trainer dan manager dari berbagai industri menemukan 23
kemampuan yang dibutuhkan dalam pekerjaan. Kepribadian, communication skills,
self-esteem dan etos kerja merupakan faktor utama penentu kesuksesan seseorang
dalam pekerjaannya (By Bill Coplin, www.dbcc.fl.com). Studi lain menunjukkan bahwa
etos kerja, kemampuan komunikasi, merunut informasi yang diikuti dengan
kemampuan analisis dan kemampuan pemecahan masalah (problem solving)
merupakan faktor utama penentu keberhasilan dalam bekerja
(www.usatoday.com.htm).
Berbagai penelitian di atas menunjukkan bahwa soft skills memiliki peran strategis
dalam menentukan kesuksesan seseorang di dalam pekerjaannya. Oleh karenanya
integrasi hard skills dan soft skills dalam penyiapan tenaga kerja dengan berbagai
upayanya termasuk pendidikan formal harus dilakukan. Namun demikian dalam
kenyataannya banyak lembaga pendidikan termasuk SMK yang belum menyadari pentingnya hal tersebut. Penelitian yang dilakukan the Business Higher-Education
Forum dan the Collegiate Employment Research Institute at Michigan State University
(www.dbcc.cc.fl.us.htm) menunjukkan respon dari para manajer yang menyatakan
bahwa siswa memiliki kemampuan teknis namun lemah dalam hal “soft skills”. Lebih
lanjut dikemukakan:
Students tend to think a high GPA and a degree will guarantee career
success, but anyone in the work world knows that only skills and character
ensure success. The GPA provides employers with one indication that the
student can work hard and manage time well. Students graduating with 3.0
will pass the grade cut-off for most jobs. Some employers want to see a 3.5,
but not most. A few even become suspicious when the GPA gets beyond the
3.6 range. A corporate recruiter sent me this note: “Our cutoff is 3.0. A 3.2 is
really looked at no differently from a 3.7.
Penanaman soft skills bagi siswa merupakan aspek penting dalam menghasilkan
lulusan yang mampu bersaing dan berjaya dalam pekerjaannya. Oleh karenanya
diperlukan kajian pola-pola integrasi soft skills dan hard skills dalam pembelajaran
dengan berbagai strateginya.
Pengertian Soft Skills
Tidak ada kesepakatan tunggal tentang makna soft skills, tetapi secara umum
istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan untuk berkembang dalam
pekerjaan. Sebagai contoh kemampuan seorang arsitek untuk membaca dan
menterjemahkan gambar perencanaan merupakan hard skills, namun kemampuan
untuk bekerja efektif dengan bawahannya, komunikasi dengan pelanggan dan atasan
merupakan aspek soft skills. Dalam hal ini soft skills diistilahkan pula dengan
Employability Skills (www.breitlinks.com/careers/soft_skills.htm).
Definisi soft skills menurut wikipedia (wikipedia.com) adalah: “the cluster of
personality traits, social graces, facility with language, personal habits, friendliness,
and optimism that mark people to varying degrees. Lebih jauh dikemukakan bahwa
soft skills merupakan komplemen dari hard skills. Hard skills bersifat spesifik dan
lebih mudah dilihat unjuk kerjanya. Hard skills merupakan kemampuan minimum yang diperlukan karyawan untuk bekerja. Seseorang dengan tingkat pendidikan dan
pengalaman yang sama rata-rata memiliki derajat hard skills yang sama. Soft skills
merupakan kemampuan yang relatif tidak terlihat (intangible) dan kadang-kadang
cukup susah untuk diukur. Kemampuan ini pada dasarnya merupakan wujud dari
karakteristik kepribadian (personality characteristics) seseorang seperti: motivasi,
sosiabilitas, etos kerja, kepemimpinan, kreatifitas, ambisi, tanggungjawab, dan
kemampuan berkomunikasi.
Definisi yang lebih komprehensif dikemukakan sebagai berikut:
Soft skills are those skills that are outside a persons job description. They can
include personality characteristics, including character, ethics, and attitudes.
The include interpersonal skills such as written and verbal communication,
sales and presentation skills, and leadership skills. They include time and
resource management skills including drive, focus, decision making, planning,
execution, dealing with task overload as well as self and team evaluation and
improvement (www.leadingconcepts.com/soft_skills_training.html)
Dari berbagai definisi tersebut dapat dirumuskan bahwa pada dasarnya soft
skills merupakan kemampuan yang diperlukan seseorang/karyawan untuk
mengembangkan dirinya dalam melakukan pekerjaan. Soft skills merupakan
komplemen hard skills yang akan menentukan kesuksesan seseorang di dalam bekerja.
Urgensi Soft skills dalam Proses Pendidikan
Pentingnya soft skills dalam pekerjaan paling dapat dicermati dari pendapat
Ram Phani (http://in.rediff.com/getahead/2007/jan/08soft.htm) yang mengemukakan
bahwa:
Soft skills play a vital role for professional success; they help one to excel in
the workplace and their importance cannot be denied in this age of
information and knowledge. Good soft skills — which are in fact scarce — in
the highly competitive corporate world will help you stand out in a milieu
of routine job seekers with mediocre skills and talent.
Dalam permulaan pekerjaan, kemampuan teknis memegang peran penting
dalam pekerjaan,namun demikian dalam perkembangan selanjutnya aspek soft skills
merupakan faktor penentu keberhasilan dalam bersaing meraih jabatan yang lebih
tinggi. Hal ini selaras dengan pendapat Iyer
(http://in.rediff.com/getahead/2005/jun/30soft.htm) yang menyatakan: “In the initialyears of your career, your technical abilities are important to get good assignments.
However, when it comes to growing in an organisation, it is your personality that
matters, more so in large organisations where several people with similar technical
expertise will compete for a promotion”.
Betul Pak Badrun, sebagai ketua bkk, seringkali sy malu pada industri, smknya sbi, tetapi begitu test psyko , ndak seperti yg diharapkan, dengan kata lain soft skillnya patut dipertanyakan. Tolong diinfokan Pak, benahi dulu soft skillnya apa yg diminta industri.Dan sebaiknya pbm terintegrasi dng soft skill. trima kasih Pak